Bukber Tak Harus Jadi Ajang Pamer Sosial Media

Bukber Tak Harus Jadi Ajang Pamer Sosial Media – Badai buka puasa berbarengan alias bukber berikan warna bulan Ramadan. Medsos lantas gak ayal penuh dengan beragam photo bukber yang penuh kehangatan.

Keberadaan medsos membuat pekerjaan bukber jadi hit. Tidak masalah, namun seorang harus waspada biar pekerjaan bukber gak kehilangan esensinya.

Pengamat sosial serta budaya Kampus Indonesia, Devie Rahmawati cemas esensi bukber malahan berpindah jadi arena pameran sosial.

“Mereka memberikan diri kalau mereka mempunyai sosial media yang luas, dari perpindahan satu tempat bukber ke tempat yang lain,” kata Devie waktu dihubungi

Dari faktor spiritual, lanjut Devie, laris pamer skedul bukber juga lari dari ajaran Islam.

“Bersosial itu bukan untuk memberikan siapa diri kita, tetapi untuk mempertajam rasa peka pada lingkungan,” kata Devie.

Belum pula arena pamer yang berlangsung waktu pekerjaan membuka berbarengan dikerjakan berbarengan beberapa orang yang butuh. Pada bulan Ramadan, memberi makan yatim piatu ada kemungkinan pilihan untuk bersedekah dengan pahala yang berlipat-lipat dari Allah SWT.

Bukan pameran sosial yang semestinya ada berikan warna pekerjaan bukber di bulan Ramadan. Devie menjelaskan, pekerjaan bukber lebih baik jadikan jadi arena ide sosial yang memberi resiko buat beberapa orang.

“Kalaupun ide sosial, acara berbaginya tdk bicara mengenai kita, tetapi mengenai orang. Kalaupun lantas ada mengenai kita, itu narasinya sangat sedikit,” pungkas Devie.

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.